
Pada tanggal 25 Januari 2021 lalu, Iris van Herpen merilis koleksi terbarunya pada salah satu pekan mode terbesar di dunia, Paris Haute Couture Week. Koleksi Spring/Summer 2021 mereka yang bertajuk Roots of Rebirth ini diperkenalkan melalui sebuah video berdurasi 9 menit pada akun youtube dan situs resmi Iris van Herpen.

Iris van Herpen merupakan seorang desainer asal Belanda yang terkenal dengan karya-karyanya yang sarat akan komponen kehidupan makhluk hidup seperti gerakan pada air, udara, dan percabangan tumbuhan di bumi. Sedangkan, perwujudan unsur arsitektur yang kerap ditemukan pada desainnya dilakukan sebagai bentuk pengekspresian diri akan seni dan budaya pada masyarakat yang berkembang dari waktu ke waktu.

Pada tahun 2007, ketika masih berusia 22 tahun, ia membangun sebuah rumah mode menggunakan namanya sendiri yang juga termasuk sebagai bagian dari Fédération de la Haute Couture. Iris van Herpen berhasil melampaui batasan teknologi pada industri fesyen dengan menggunakan teknik 3D-printing dan laser-cutting yang kemudian digabungkan dengan keterampilan pekerjaan tangan seperti sulaman dan draping. Dari teknik ini, lahirlah koleksi-koleksi yang khas dengan pemanipulasian siluet melalui perpaduan transparansi garmen yang membentuk lapisan cahaya dengan garis-garis gelombang tiga dimensi.



Seperti contohnya pada koleksi Capriole pada tahun 2011 dengan gaun ‘Skeleton’-nya yang 100% dihasilkan dengan teknik 3D-printing menggunakan bahan akrilik putih tembus pandang hingga membentuk kerangka tubuh manusia. Di tahun 2017, pada koleksi Between the Lines, Iris van Herpen menciptakan gaun ‘Blaschka’ menggunakan teknik 3D-printing pada material plexiglass untuk menghasilkan cetakan bermotif garis-garis simetris yang kemudian dicat menggunakan teknik injection moulding kemudian disambung dengan jahitan tangan ke kain tulle. Gaun ‘Nautiloid’ yang dikeluarkan dalam koleksi Sensory Seas pada 2020 lalu juga menerapkan teknik laser cut pada gelembung kain sejenis polyester transparan yang disatukan dengan puluhan lingkaran organza kaca yang dicetak secara digital dan dijahit manual hingga menciptakan sebuah gaun yang bervolume penuh.
Roots of Rebirth
Roots of Rebirth terinspirasi dari jamur dan “belitan kehidupan yang bernapas di bawah kaki kita”. Ide akan koleksi ini datang setelah van Herpen membaca sebuah buku berjudul ‘Entangled Life’ karya Merlin Sheldrake. Dalam buku itu, Sheldrake mendeskripsikan jamur sebagai sebuah jaringan ekologis yang menopang sebagian besar kehidupan di bumi. Melalui penelitiannya, Sheldrake menemukan adanya jalur komunikasi antar jaringan yang diberi istilah ‘wood wide web’. Pengambilan inspirasi ini dirasa cukup relevan dengan kondisi dunia yang kini dipaksa untuk berjauhan namun tetap terhubung antara satu dengan yang lain.

Koleksi yang berisikan 21 looks bernuansa putih, biru, dan coklat ini disajikan melalui sebuah video peragaan busana yang berlatar belakang pada sebuah ruangan gelap dengan cahaya yang hanya difokuskan pada model-model yang sedang berjalan. Seiring dengan langkah kaki para model, partikel-partikel kecil muncul di sekitarnya bak spora yang sedang dilepaskan ke udara.
Video dibuka dengan sebuah gaun berbahan dasar organza kaca gradasi putih hingga biru tua dengan bagian bahu yang melingkar layaknya kepala jamur. Bahan yang sama dapat dijumpai dengan variasi warna emas dipotong hingga menyerupai jamur yang sedang bermekaran. Kain sutra pun dilipat hingga menyerupai jaringan akar yang menghubungkan antar tumbuhan.

Sebuah gaun bernama ‘Henosis’ terbuat dari lapisan renda putih tembus pandang di atas bodice berwarna krem dan menjalar keluar hingga membentuk ratusan “sirip” yang melayang. Look ini juga dilengkapi oleh sebuah headpiece karya seniman Casey Curran yang terbuat dari 18 monofilamen transparan yang dapat bergerak dan mengubah siluetnya. Pada sebuah wawancara dengan CNN Indonesia, van Herpen menerangkan bahwa headpiece tersebut melambangkan gejolak pikiran manusia yang berusaha memperbaiki realita kehidupan untuk menemukan harapan dan mimpi-mimpi baru di masa depan.



Meski tidak menggunakan tekstil berbahan dasar miselium yang saat ini banyak dikembangkan, prinsip sustainability tetap diterapkan pada beberapa desain. Melalui kerja sama dengan Parley for the Oceans, gaun ‘Holobiont’ terbentuk menggunakan material Ocean Plastic hasil daur ulang limbah laut. Parley for the Oceans sendiri merupakan sebuah NGO asal New York, Amerika Serikat, yang berfokus pada peningkatan kesadaran dan kolaborasi, baik dengan peneliti, desainer, maupun pemerintahan, dalam mengeksplorasi cara baru untuk melestarikan lingkungan, terutama kehidupan laut. Material Ocean Plastic ini dicetak dan dipotong secara parametrik hingga membentuk gabungan pola segitiga halus yang kemudian disatukan kembali menggunakan tangan sehingga terlihat seperti menyatu dengan kulit.



Tidak hanya itu, pada gaun lain yang bernamakan ‘Luminous Lichen’, van Herpen juga menggabungkan kain sutra crêpe-de-chine dengan kain sintetis hasil produksi perusahaan asal Boston, Amerika Serikat, bernama Majilite. Didirikan pada tahun 2004, Majilite terkenal dengan penyedia kain suede dan kulit sintetis yang berasal dari bahan organik dan daur ulang serta bebas akan bahan kimia dalam proses produksinya. Kain dari perusahaan Majilite ini dimanipulasi oleh Iris van Herpen menggunakan teknik laser cut menyerupai sekumpulan akar yang bercahaya.
Seluruh koleksi Roots of Rebirth dapat dilihat melalui situs Iris van Herpen pada https://www.irisvanherpen.com/ss21-collection dan simak penjelasan detail terkait setiap piece pada Instagram @irisvanherpen.
Teks oleh Nabila Nida Rafida untuk The Textile Map. Sumber: Vogue | Iris van Herpen | WWD| CNN Indonesia | Fashionista






















[…] Roots of Rebirth: Iris van Herpen Spring 2021 Couture […]
LikeLike