Nidiya Kusmaya dalam pemanfaatan sisa bahan masakan dan mikroorganisme sebagai alternatif pewarna tekstil

Nidiya Kusmaya tengah menjelaskan karyanya yang ditampilkan pada pameran ‘Berburu dan Meramu’.
Foto oleh Rizky Novariandi. (Sumber: Sukabumi Creative Hub)

Umumnya, pewarna alam dikenal sebagai pewarna yang dihasilkan dari tumbuh-tumbuhan – seperti halnya kunyit, indigo, secang, kemiri, dan masih banyak lagi. Meski memiliki kekuatan pigmen yang cenderung lebih lemah, penggunaan pewarna alam tetap bertahan di tengah kepraktisan dan murahnya pewarna sintetis dikarenakan sifatnya yang ramah lingkungan, serta nilai kekriyaan yang lebih tinggi, karena dalam memproduksi pewarna alam dibutuhkan proses manual yang cukup rumit. Karena itu pula penggunaan pewarna alam lebih banyak digunakan pada produk eksklusif seperti kain-kain tradisional, bukan pada produk yang dibuat secara massal atau menggunakan mesin.

Kumpulan dari eksperimen awal Nidiya dalam menggunakan mikroorganisme sebagai pewarna alam alternatif.
(Sumber: Nidiya Kusmaya)

Namun, terkadang pengrajin atau pengusaha tekstil menemui hambatan dalam mendapatkan bahan baku pewarna alam, karena jumlah tumbuhan yang seringkali terbatas. Hal ini menginspirasi Nidiya Kusmaya, seorang peneliti dan artisan tekstil asal Sukabumi, Jawa Barat, untuk menemukan alternatif baru untuk pewarna alam. Diawali pertanyaan ‘Bagaimana bila suatu hari, kita tidak dapat lagi menghasilkan pewarna alam menggunakan tumbuhan?’, Nidiya kemudian mendapat jawabannya ketika ia melihat sampah sisa makanan rumahan (household food waste) yang beragam, serta bagaimana keberadaan bakteri dan jamur di tempat yang lembab dapat menghasilkan warna yang berbeda-beda. Ia pun mulai mengembangkan penelitiannya yang revolusioner bahkan di ranah tekstil internasional: penggunaan sampah dapur dan mikroorganisme sebagai bahan dasar pewarna tekstil.

Pewarna alam dari sampah dapur dan mikroorganisme

Memiliki latar belakang di bidang Kriya Tekstil, Nidiya menyelesaikan studinya di Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung (FSRD ITB) pada tahun 2013. Sejak masih menjadi mahasiswa, Nidiya memiliki minat yang tinggi terhadap gerakan mode berkelanjutan (sustainable fashion). Hal ini membawanya untuk mulai menekuni penelitian pada sampah dapur dan mikroorganisme seperti jamur dan bakteri sebagai alternatif bahan pewarna alam.

Penggunaan pewarna alam mikroorganisme pada produk aksesoris oleh Nidiya Kusmaya. (Sumber: Nidiya Kusmaya)

Awalnya, Nidiya pernah bereksperimen dengan berbagai jenis jamur seperti Aspergillus Niger, jamur hitam yang tumbuh pada pakaian lembab, jamur oranye pada obat-obatan cina, Trichoderma, jamur putih yang menyuburkan tanah, dan Serratia Marcescens, bakteri merah yang tumbuh di dinding kamar mandi. Nidiya berhasil menciptakan corak alami pada pakaian dengan cara membiarkan jamur-jamur tersebut tumbuh pada kain. Pakaian berjamur ini kemudian akan disterilkan sebelum dapat dipakai.

Pemanfaatan sampah sisa bahan masakan sebagai pewarna dinilai lebih menguntungkan daripada menerapkan teknik bercocok tanam konvensional karena membutuhkan biaya perawatan yang lebih sedikit. Untuk melakukan micro-farming, Nidiya melibatkan penggunaan mikroorganisme dalam skala kecil lalu membudidayakannya pada sebuah media yang lingkungannya terkendali. Saat masih dalam tahap pertumbuhan, mikroorganisme ini dapat diarahkan untuk menghasilkan pola tertentu.

Pada tahun 2016, Nidiya sempat melaksanakan residensi artisan tekstil di Blonduos, Islandia, di mana ia melakukan eksperimen pembuatan pewarna alam dari berbagai sampah dapur di daerah setempat. Dengan memprakarsai tagar #colourbeforecompost (pewarna sebelum kompos), Nidiya memperkenalkan konsep baru di mana sebelum diolah menjadi pupuk kompos, sampah makanan dapur dapat terlebih dahulu dimanfaatkan dengan cara diekstrak menjadi pewarna alam. Salah satu contoh eksperimen warna yang dilakukan Nidiya pada saat itu adalah dengan mengekstrak sampah dapur berupa anggur dari dapur kantor seorang temannya di Islandia yang bernama Johanna. Dengan menggunakan mordant yang berbeda-beda, satu jenis sampah dapur kemudian dapat menghasilkan berbagai warna yang memiliki karakteristik yang berbeda pula.

Nidiya Kusmaya sebagai pembicara dalam diskusi ‘Is Sustainable Doable?’ oleh Goethe Institut Jakarta pada tahun 2017.
(Sumber: Nidiya Kusmaya)

Hasil penelitian Nidiya kemudian semakin dikenal masyarakat luas ketika ia berpartisipasi dalam pameran Slow Fashion Lab Exhibition  yang diadakan oleh Goethe Insitut Indonesia pada tahun 2017, di mana penelitiannya pada pewarna tekstil dari mikroorganisme dipaparkan secara mendetail. Di tahun yang sama, Nidiya juga berkesempatan untuk berpartisipasi pada pameran International Defending Dyeing Art Exhibition – Inheritance & Innovation 2017, di Tsinghua University, Beijing China, dan juga terpilih sebagai salah satu dari 20 besar desainer dalam program Orbit yang dilaksanakan oleh BEKRAF. Perjalanan Nidya dengan microfriends-nya–begitu ia menyebut mikroorganisme yang menemani penelitiannya dari waktu ke waktu–kemudian terus membawanya melangkahi berbagai pijakan baru. Beberapa di antaranya adalah partisipasi Nidiya pada program ‘What If Lab’ yang diadakan oleh Kedutaan Besar Belanda, bergabung dengan Mycotech Lab, melalui berbagai wawancara dengan media besar nasional dan internasional, hingga pengalaman residensi dan menggelar pameran di Gwangju, Korea Selatan.

Berburu dan Meramu

Desain publikasi pameran ‘Berburu dan Meramu’.
(Sumber: Sukabumi Creative Hub)

Pada tanggal 15-19 Februari 2021 ini, Nidiya tengah menggelar pameran tunggalnya yang bertajuk Berburu dan Meramu. Pameran ini digelar sebagai media cerita mengenai proses pencarian alternatif baru oleh Nidiya sendiri dalam industri tekstil di tengah maraknya ketersediaan material sintetis. Pameran ini berlokasi di Rumah Kreatif Milenial, Sukabumi dan akan berlangsung selama kurang lebih lima hari. Di tanggal 20 Februari 2021, Nidiya akan menutup pamerannya dengan sebuah lokakarya.

Selain penggunaan sisa bahan masakan dan mikroorganisme yang menjadi spesialisasinya, Nidiya juga menyajikan karyanya yang memanfaatkan berbagai tumbuhan, mulai dari kayu secang, tegeran, senduduk, hingga sisa hasil potongan pohon teh dari Kebun Teh Goalpara, Sukabumi. Menariknya, Nidiya juga memanfaatkan musim buah rambutan dengan mengumpulkan sisa kulitnya untuk diolah menjadi pewarna merah, dan bereksperimen dengan bahan-bahan masakan khas Sunda seperti sayur asem serta tumis kangkung. Agar warna yang dihasilkan lebih terang, Nidiya juga memanfaatkan mordant-mordant alami seperti kapur, kerang, kacang kedelai, dan tanah.

Ada berbagai instalasi proyek yang diperlihatkan di Berburu dan Meramu, namun terdapat tiga yang menjadi sorotan utama. Instalasi pertama adalah hasil kolaborasi Nidiya dengan kelompok keahlian kriya tekstil ITB bersama ALVSTUDIO, sebuah studio eksplorasi bahan alam yang didirikan oleh Alvinska Octaviana. Dalam proyek ini, ia melakukan ekstraksi warna pada sisa-sisa makanan, seperti daun pisang dan singkong, yang kemudian diolah menjadi kertas daur ulang. Kertas-kertas ini sebagian dipintal dan ditenun hingga menjadi kain.

Instalasi “Colors Diary”. Foto oleh Rizky Novariandi. (Sumber: Sukabumi Creative Hub)

Instalasi kedua memiliki tajuk “Colors Diary”. Instalasi ini berisikan dokumentasi apa saja yang Nidiya makan saat ia melakukan residensi di Islandia dalam bentuk warna. Terakhir, terdapat instalasi berisi kain-kain dalam ukuran besar. Warna yang terlihat pada kain tersebut dihasilkan melalui olahan earth pigment, seperti tanah liat dan air oksida. Pigmen ini kemudian dikombinasikan dengan pewarna alam lainnya lalu diaplikasikan ke permukaan kain dengan teknik lukis.


Pada kesempatan yang akan datang, nantikan wawancara eksklusif tim The Textile Map dengan Nidiya Kusmaya untuk mendiskusikan lebih lanjut mengenai perjalanannya sebagai artisan  dan desainer tekstil. Saat ini, pameran Berburu dan Meramu juga masih terbuka untuk umum hingga tanggal 19 Februari 2021 besok. Untuk mengenal Nidiya dan karyanya lebih jauh, kunjungi akun Instagram Nidiya di @nidiyakusmaya dan situs pribadinya nidiyakusmaya.com.

Penulis: Nabila Nida Rafida & Mega Saffira | Editor: Mega Saffira | Sumber: Nidiya Kusmaya | Sukabumi Creative Hub | Garland Mag | Selvedge Magazine | The Jakarta Post | Netherlands And You

All images are courtesy of Nidiya Kusmaya, Sukabumi Creative Hub, and Rizky Novariandi

One comment

Leave a comment