Maison Margiela F/W 2026: Dari Pasar Loak Hingga ‘Kerusakan’ yang Dirayakan

[Shanghai, Cina] 1 April 2026 menjadi sebuah tanggal yang historis bagi rumah mode legendaris, Maison Margiela. Ketika sebelumnya jenama tersebut kerap melansir koleksi terbarunya di Paris, kini Maison Margiela menyuguhkan koleksi terbaru Fall/Winter 2026-nya di Shanghai, Cina. Tidak hanya memberi sensasi melalui lokasi pergelaran busananya, seperti biasa, rumah mode yang kini dipimpin secara kreatif oleh desainer Glenn Martens, kembali berhasil memberikan impresi melalui desain yang eksperimental dan konseptual. Dalam koleksi kali ini, Glenn Martens mengambil inspirasi dari pasar loak (flea market) di Paris yang sering kali menjual barang-barang antik seperti benda-benda porselen, lembaran tapestri tua, hingga lukisan berusia ratusan tahun yang sudah mengelupas. Selain menginterpretasikan konsep ini secara simbolik, Martens juga mengaplikasikan teknik-teknik seperti pelekatan (fusing), pencabutan (décortiqué/ripped-off), dan pendayagunaan kembali (upcycling) sepanjang koleksi.The Textile Map menilai kombinasi eksplorasi material yang begitu variatif dengan siluet-siluet yang elegan dan klasik ini kemudian menciptakan kesan ‘decayed post-modern royalty‘ atau ‘kemegahan pasca-modern yang memudar’ pada koleksi Maison Margiela kali ini, di mana ‘kerusakan’ bukanlah sebuah akhir cerita sebuah benda, tapi awal dari perayaan yang baru.

Tentang Maison Margiela

Maison Martin Margiela Show 1989 Paris
Debut pagelaran busana Maison Martin Margiela pada tahun 1989 di pinggiran kota Paris. (Foto: Dok. Jean-Claude Coutausse via The Business of Fashion)

Maison Margiela, yang mulanya dinamai Maison Martin Margiela sesuai nama pendirinya, Martin Margiela, adalah sebuah rumah mode bergelar Haute Couture yang didirikan pada tahun 1988. Sejak awal didirikan, Margiela dikenal sebagai sebuah jenama mode yang memiliki idealisme dan filosofi yang melawan norma di industri mode pada umumnya, di mana ia kerap menyisipkan pesan-pesan ekspresionis, radikal, dan revolusioner melalui koleksi-koleksinya. Sejak debutnya di tahun 1989, Margiela telah menunjukkan posisinya di industri mode dengan melawan arus, seperti menciptakan koleksi dengan pakaian yang dibuat dari kantong plastik, menggunakan label putih polos tanpa nama pada produk-produknya, dan aplikasi teknik disruptif dan dekonstruktif seperti mengecat benda menggunakan warna putih dan membiarkan cat tersebut pudar atau rontok secara alami, yang kemudian dikenal sebagai efek bianchetto khas Margiela.

Beberapa karya ikonik John Galliano selama memimpin arahan kreatif Maison Margiela. (Foto: Dok. Vogue, WWD)

Martin Margiela dikenal dengan prinsipnya yang anti-ketenaran (bahkan sebagian menyebutnya anti-fashion) dan merupakan salah satu desainer legendaris yang hampir tidak pernah menampakkan wajahnya kepada publik. Idealisme ini lambat laun berujung pada kepergian Martin Margiela dari jenama yang telah ia besarkan tersebut pada tahun 2009, setelah jenama tersebut diakuisisi oleh OTB Group pada tahun 2002. Beberapa tahun kemudian, pada tahun 2014, John Galliano, desainer couture ternama yang sebelumnya bekerja pada rumah mode Dior, menempati posisi direktur kreatif jenama tersebut setelah Martin Margiela dan mengubah Maison Martin Margiela menjadi Maison Margiela. Momen ini juga bersejarah dikarenakan Maison Margiela menjadi rumah debut kembali setelah keterlibatan mereka pada kasus kontroversial di tahun 2011 yang berujung pada pemecatannya dari Dior.

Maison Margiela Artisanal 2025 Glenn Martens
Debut Glenn Martens sebagai direktur Maison Margiela di tahun 2025. (Foto: Dok. Maison Margiela via The Business of Fashion)

Setelah sepuluh tahun berkiprah membawa warisan estetika dan idealisme Martin Margiela dengan kekhasan desain Galliano yang avant-garde, era itupun berakhir pada tahun 2024 lalu. Estafet kemudian dilanjutkan oleh desainer Glenn Martens, yang hingga kini menjadi perhatian khusus bagi para pengamat industri mode semenjak karirnya sebagai direktur kreatif jenama Diesel. “Martin Margiela lah yang membuat kantong plastik bisa dilihat seperti sebuah barang mewah. Yang terpenting adalah bagaimana kita melihat sesuatu dan mengubah persepsi tentang hal tersebut.”, ujar Martens ketika menjelaskan bagaimana arahan kreatif Maison Margiela selalu berpusat pada penggabungan elemen yang berasal dari objek sehari-hari dengan keterampilan (craftsmanship), dan bagaimana ia ingin mempertahankan pandangan itu pada desain-desainnya.


Maison Margiela F/W 2026

Maison Margiela Fall Winter 2026 Glenn Martens Shanghai
Pergelaran busana Maison Margiela F/W 2026 yang diadakan di galangan kapal di pinggiran kota Shanghai, Cina. (Foto: Dok. Maison Margiela)

Setelah di koleksi sebelumnya Maison Margiela menyelenggarakan pertunjukan orkestra ekspresionis oleh anak-anak sebagai pengiring pergelaran busananya, kali ini pengunjung diundang untuk mendatangi area galangan kapal (shipyard) di luar pusat kota Shanghai, dengan tumpukan kontainer besi warna-warni sebagai latar sekaligus area tempat duduk penonton. Konsep ini mengingatkan pengikut Maison Margiela pada sejarah Martin Margiela yang dikenal sering mengadakan pergelaran busana di tempat-tempat publik yang tidak biasa, seperti sebuah kantor pos di pinggiran Paris pada debutnya pada tahun 1989. Pemilihan galangan kapal sebagai lokasi ini juga dikatakan sebagai refleksi terhadap sejarah perdagangan di Shanghai.

Beberapa desain penutup kepala pada pergelaran koleksi F/W 2026 Maison Margiela. (Foto: Dok. Maison Margiela)

Pergelaran busana ini juga pertama kalinya Maison Margiela menyajikan koleksi artisanalnya beriringan dengan koleksi siap pakai (ready-to-wear) setelah sekian lama. Hal ini menghadirkan kombinasi look yang dinamis, dari barisan gaun-gaun megah dan skulptural hingga jaket dan rompi tailored yang praktis digunakan. Sejak awal menempati posisinya, Martens juga terus berusaha melanggengkan idealisme Martin Margiela melalui penggunaan penutup wajah dan kepala pada seluruh model, sebagai upaya mengalihkan fokus penonton pada kesenian dan keterampilan yang tampak pada pakaian yang dipertunjukkan.

Dengan kombinasi pakaian pria dan wanita yang berkesinambungan sepanjang koleksi, koleksi ini hadir sebagai koleksi ketiga sejak Glenn Martens menempati peran sebagai direktur kreatif Maison Margiela. Hanya dengan tiga koleksi perdana ini, peluncuran-peluncuran koleksinya melalui rumah mode tersebut kerap meninggalkan dampak yang signifikan di industri mode dunia. Bukan karena faktor estetika semata, para kritikus dan media kerap menyebut Martens sejauh ini berhasil membangkitkan ‘ruh’ sejati Martin Margiela secara autentik pada jenama tersebut. Satu lagi hal esensial yang dilakukan oleh Glenn Martens demi ‘merawat’ filosofi Martin Margiela adalah dengan tidak menampakkan dirinya di akhir pergelaran.

Eksplorasi Material dan Teknik yang Dramatis

Bukan merupakan hal yang baru bahwa Maison Margiela kerap melakukan eksplorasi material yang tidak lazim pada pakaian rancangannya. Pada koleksi yang terdiri dari sekitar 70-an look ini, material bervariasi seperti mohair, beludru, kulit, tafeta, katun, satin, tweed, brokat, chiffon, hingga rajut, hadir memberikan kekayaan tekstur, efek visual, dan bentuk sepanjang koleksi.

Eksplorasi tekstur dilakukan secara dramatis oleh Martens dengan berbagai teknik. Salah satunya adalah penggunaan lilin lebah (beeswax), di mana sebuah gaun edwardian hitam dan putih yang direkonstruksi dicelupkan ke dalam rendamannya. Efek lilin tersebut kemudian memberikan tekstur retakan yang membuat gaun tersebut seperti pajangan yang termakan usia, seperti efek bianchetto yang juga muncul dalam pakaian lainnya. Beberapa gaun dibuat dengan cara melekatkan (fusing) lapisan kain tapestri dan jacquard ke atas kain dasar, kemudian melepaskannya sehingga terdapat sisa-sisa kain yang tertinggal di permukaan (teknik ripped-off). Martens juga mengolah lembaran tapestri dari abad ke-19 yang direstorasi menggunakan barisan kepingan sequin yang dikatakan menghabiskan durasi pengerjaan selama 1.000 jam. Seolah tak cukup ekstrem, terdapat pula gaun yang sepenuhnya terbuat dari ‘benang’ pakan baja tahan karat yang ditenun kedalam benang lurex sebagai lusi, yang kemudian dibentuk dengan tangan secara langsung di studio Maison Margiela.

Kiri-kanan: (1) lembaran kain tapestri yang direstorasi dengan barisan sequin, (2) efek retakan lilin lebah di atas gaun edwardian hitam, (3) efek cat bianchetto pada potongan tailcoat. (Foto: Dok. Maison Margiela)

Inspirasi yang berasal dari boneka porselen tampak pada beberapa gaun di awal pergelaran yang terbuat dari tiga hingga delapan lapisan organza kaca (glass organza) yang dicantumkan sehingga menghasilkan efek skulptural dan bayangan serta kilap khas boneka porselen yang dibuat dengan teknik cat semprot (airbrush) di atas material gazar sebagai lapisan dalamnya. Hal ini juga kemudian diterjemahkan secara literal pada gaun bersiluet edwardian dengan 500 pecahan porselen putih yang dilekatkan pada lembaran kain organza. Sebuah gaun menarik perhatian dengan aplikasi potongan-potongan kain tapestri yang ditempelkan mengikuti jatuhan draperi kain satin berwarna kuning.

Sisi eksperimental juga tersirat pada gaun yang dibuat selama 2.975 jam oleh 34 artisan dengan menempelkan 150.000 kepingan kertas emas berbentuk bintang ke atas organza, serta gaun tafeta putih dan lamé merah muda metalik yang dibuat sepenuhnya menggunakan teknik drapery bentukan tangan yang terdiri dari 400 titik jahitan. Terlebih lagi, terdapat gaun yang dibentuk dengan cat lateks yang dicetak ke atas perhiasan-perhiasan antik yang dipakai melekat pada manekin, kemudian dikelupas dengan hati-hati, menjadi lembaran pakaian jadi. Adanya pakaian yang terbuat dari kumpulan syal crochet vintage berwarna putih keemasan juga turut memberikan sisi megah pada koleksi ini.

Kiri-kanan: (1) proses penjahitan lapisan organza disetelah proses cat semprot, (2) proses pencetakan cat lateks pada perhiasan yang dipakaikan pada manekin, (3) proses pembentukan pola dengan pecahan porselen. (Foto: Dok. Maison Margiela)

Dalam koleksi ini, Martens juga menunjukkan bagaimana material-material dapat digunakan diluar kebiasaannya di dunia mode. Salah satunya adalah penggunaan bahan rajut tipis dari bulu mohair yang ditransformasi menjadi sehelai gaun artisanal yang dilengkapi tudung panjang yang menutupi wajah, serta tailored pieces yang dibuat menggunakan bahan kulit (leather). Kombinasi antara gaun romantik berbahan lace dengan jaket tweed pun menjadi salah satu sorotan pada koleksi ini.

Lepas dari eksplorasi tekstur yang maksimalis di berbagai look artisanal, pakaian-pakaian ready-to-wear tetap memberikan keseimbangan dengan mengandalkan material-material standar yang dikombinasikan dengan potongan pola yang sleek. Beberapa keunikan pada detail diimplementasikan melalui teknik patchwork pada beberapa kemeja yang menggabungkan beberapa motif sekaligus dalam potongan yang kecil. Tak hanya itu, terdapat juga jaket serta gaun midi yang dikonstruksi menggunakan sekitar 12-15 jaket kulit vintage yang dielaborasi lagi dengan gambar-gambar khas era edwardian yang dilukis dengan tangan.

Maison Margiela Fall Winter 2026 Glenn Martens Shanghai

Mendekati akhir pergelaran, beberapa potongan pakaian bermaterial beludru muncul, dengan warna yang beragam dari ungu, lime, salem, hingga hitam. Puncak pergelaran kemudian ditandai dengan gaun terakhir yang terbuat dari lukisan sepanjang lima meter yang nampak telah mengelupas dimakan usia, tanpa ada potongan demi menjaga keutuhan lukisan. Lukisan itu disebutkan ditemukan tergeletak di lantai sebuah toko di pasar Saint-Ouen, Paris. Material yang sama juga terlihat pada aksesori berupa tas tangan yang digunakan bersamaan dengan tampilan ready-to-wear lain sebelum ini. Penggunaan benda-benda seperti gaun tua, lukisan yang terkelupas, juga tapestri yang sudah usang pada koleksi ini, lagi-lagi memberikan pernyataan kuat bahwa Maison Margiela bukanlah sebuah jenama mode yang mengikuti pasar, melainkan menciptakannya.

Maison Margiela/Folders

Poster iklan program-program aktivasi Maison Margiela/folders di Shanghai, Beijing, Chengdu, dan Shenzen. (Foto: Dok. Maison Margiela)

Diadakannya pergelaran Maison Margiela di Shanghai tentunya merupakan sebuah momentum berlandaskan sebuah misi, seperti yang diutarakan oleh Renzo Rosso, pendiri dan pimpinan dari OTB Group, perusahaan yang memayungi berbagai jenama mode termasuk Maison Margiela, bahwa mereka ingin menciptakan sinergi dengan masyarakat di Tiongkok melalui kreativitas Glenn Martens. Dalam memenuhi misi tersebut, Maison Margiela tidak hanya berhenti di pergelaran busana, tetapi juga menghadirkan serangkaian program aktivasi selama 12 hari bertajuk “Maison Margiela/Folders” yang akan diadakan di Shanghai, Beijing, Chengdu, dan Shenzen dengan konsep yang berbeda-beda, dari pameran hingga immersive experience.

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Maison Margiela, kunjungi situs resmi dan akun Instagram mereka.

Penulis: Mega Saffira | Editor: Stella Budiarjo, Mega Saffira


Sumber: Maison Margiela | WWD | Hypebeast | OTB | Truss Archive

Leave a comment