Sapto Djojokartiko S/S 21: refleksi tradisi tajen terhadap masa pandemi dan kreativitas

Photo by Davy Linggar | Instagram @saptodjojokartiko

Beberapa hari sebelum Sabtu, 10 Oktober 2020, Sapto Djojokartiko, salah satu desainer senior Indonesia yang kerap kali menciptakan koleksi dengan olah latar tekstil yang mendetil dan penuh pemikiran, mengirimkan undangan virtual untuk ‘menghadiri’ peragaan koleksi terbarunya secara daring yang akan diputar di situs resmi saptodjojokartiko.com. Undangan tersebut berlatar foto karya fotografer Davy Linggar. Dari sana, sudah terbayang bagaimana peragaan koleksi di situasi pandemi yang tidak biasa ini akan dipertunjukkan dalam wujud sebuah karya seni sinematik.

Muhammad Khan | Photo by Davy Linggar | Instagram @saptodjojokartiko

Tautan menuju film yang disutradarai oleh Reuben Tourino tersebut mulai dapat diakses pada pukul 10.00 WIB, 20 menit sebelum film dimulai. Namun pengunjung situs sudah dapat menikmati indahnya sorotan-sorotan yang diambil di Sumur Gumuling, Istana Air Taman Sari, Yogyakarta. Film yang kemudian berdurasi selama 6 menit 24 detik tersebut pun secara magis memperlihatkan karya-karya Sapto Djojokartiko yang tetap konsisten dengan estetikanya yang sarat akan rasa klasik, romantis, namun tegas dan berani. Film ini juga dilengkapi klimaks dari akting dan tarian tunggal yang emosional oleh Muhammad Khan, aktor dan penari yang telah memenangkan berbagai penghargaan di dunia akting seperti Piala Citra 2019, Piala Maya 2019 dan IMAA 2020.

Koleksi untuk periode Summer/Spring 2021 ini merupakan buah pikiran dan kreativitas Sapto Djojokartiko selama masa pandemi berlangsung. Situasi yang bagi hampir semua orang seperti tantangan besar yang tidak pernah ditaksir sebelumnya, namun ternyata memiliki berkah tersendiri setelah dilalui dengan berbagai momen meditatif dan reflektif, serta kegiatan-kegiatan yang sebelumnya tidak tersempatkan.

Sepanjang koleksi ini, karakter desain Sapto Djojokartiko beberapa tahun ke belakang yang khas dengan dominasi penggunaan warna-warna ethereal, material seperti organza dan lace, serta detail aplikasi tekstil seperti bordir dan lipit masih kental terlihat. Namun yang sedikit berbeda barangkali adalah minimalnya aplikasi 3 Dimensi seperti payet, yang dilakukan secara intensional oleh Sapto Djojokartiko dengan mempertimbangkan fleksibilitas penggunaan koleksi ini dalam keseharian yang kini banyak dihabiskan oleh masyarakat di rumah. Hal tersebut tidak menjadi penghalang bagi Sapto Djojokartiko untuk tetap menunjukkan detil-detil yang kuat dan elegan dalam koleksinya, dengan diimbangi dengan penggunaan warna-warna gelap seperti hitam dan cokelat, serta cerah seperti coral bahkan kuning yang seperti biasa dipadukan secara harmonis dengan sinergi material serta detil bordir yang kaya akan tekstur. Siluet-siluet dinamis yang membebaskan ruang bergerak bagi pemakainya pun membuat aspek kenyamanan sangat terasa sepanjang koleksi yang terdiri dari busana perempuan maupun pria ini.

Detil gaun dengan anyaman organza, dilapisi mantel organza dengan detil bordir ‘Ayam Sawung’ dengan selempang bordir bermotif Tirto Tedjo | Courtesy of Sapto Djojokartiko

Yang istimewa dalam koleksi ini adalah inspirasi berdasarkan budaya nusantara—yang  sebelumnya memang sering diangkat oleh Sapto dalam koleksi-koleksinya–yang kali ini ia dapatkan dari tradisi keagamaan di Bali, yaitu Sabung Ayam atau tajen. Inspirasi ini ditemukannya dari hasil membaca buku-buku sejarah selama pandemi. Lepas dari kontroversi terkait tradisi tersebut, Sapto mendapati tradisi sabung ayam sangat menarik untuk diterjemahkan secara visual ke dalam karyanya. Hal ini tercerminkan dalam salah satu gaun sepanjang betis yang menggunakan material creative fabric menyerupai anyaman keranjang yang tersusun dari kain organza yang dipotong secara individu, serta dilengkapi dengan detil tusuk silang hasil sulaman tangan. Detil sulaman tangan juga dihadirkan dalam bentuk ayam jago, pola acak yang dinamis dan guratan menyerupai sapuan kuas.

Sapto Djojokartiko Spring/Summer 2021 Film | Directed by Reuben Tourino

Tidak sekedar implementasi secara visual, Sapto juga menjelaskan bagaimana filosofi tradisi sabung ayam ini dapat dijadikan refleksi yang puitis terhadap situasi masyarakat di masa pandemi ini. Apabila ayam yang memenangkan pertarungan sabung ayam kemudian akan ditempatkan kembali dalam kandang sebagai simbol kemenangan, sebaliknya, kita saat ini sedang bertarung melawan musuh yang tak terlihat dengan tinggal di dalam rumah—menanti momen kemenangan di mana kita dapat kembali beraktivitas di luar rumah dengan bebas dan damai.

“Saya tahu bahwa masyarakat akan segera beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan kebiasaan baru. Semoga kedepannya, film pendek ini bisa menjadi kenang-kenangan bagi saya dan semua orang yang terlibat saat kita semua harus berjuang untuk bertahan hidup. Tetapi itu juga harus berfungsi sebagai pengingat bahwa bahkan di masa-masa tersulit sekalipun, jangan pernah membiarkan pikiran Anda mengalahkan Anda. Roda akan selalu berputar, jaga kreativitas tetap hidup karena tanpa itu tidak akan ada yang berarti di dalam hidup ini. ” – Sapto Djojokartiko

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai koleksi Sapto Djojokartiko S/S 2021, kunjungi situs saptodjojokartiko.com dan ikuti akun Instagram @saptodjojokartiko.

Teks: Mega Saffira untuk The Textile Map | All Images courtesy of Sapto Djojokartiko.

Leave a comment