Amala Ikhsani adalah seniman yang bekerja dengan tekstil sebagai medium utamanya. Saat ini ia menjalani peran ganda sebagai ibu rumah tangga sekaligus seniman, sambil aktif mengeksplorasi material dan teknik baru. Sebagai seorang seniman, ia memiliki ketertarikan dalam membuat karya yang berkaitan dengan pengalaman perempuan, baik yang terjadi dalam ruang sosial maupun pergolakan yang lebih personal. Karyanya, Nyumbang (2026), yang dipamerkan di ART HEY.6: Alir pada tanggal 5-7 Juni 2026 lalu, merupakan karya yang menggabungkan material limbah tekstil dan mengangkat tradisi gotong royong dalam masyarakat Jawa, serta bagaimana maknanya bergeser seiring waktu. The Textile Map berbincang dengannya tentang proses berkarya, pilihan material, dan bagaimana ia memandang tekstil sebagai medium.
Nyumbang: Ketika Material Merespons Tradisi
(Foto: Dok. Amala Ikhsani)
Ide karya ini muncul dari pengamatan sehari-hari setelah Amala pindah ke desa pada 2023, mengikuti orang tuanya yang lebih dulu menetap di sana sejak 2019. Di musim hajatan, dalam satu bulan bisa datang banyak undangan sekaligus. Pernikahan, khitanan, dan kelahiran. Ia mengamati mekanisme yang berjalan di baliknya: perempuan membawa beras sekitar tiga kilogram, ditambah tumpangan seperti telur, mi instan, atau kebutuhan rumah tangga lainnya untuk kerabat dekat. Laki-laki menyerahkan uang. Semua dicatat oleh petugas khusus.
Yang ia pertanyakan bukan tradisinya sendiri, melainkan cara tradisi itu dijalankan. Nyumbang secara harfiah berarti memberi, tapi dalam praktiknya, sering muncul pertanyaan soal timbal balik: si pemilik hajatan dulu menyumbang berapa? Apakah harus dibalas setara? Kalau tidak sepadan, bisa jadi bahan pembicaraan.
"Nyumbang lahir dari semangat gotong royong—tapi seiring waktu, di beberapa situasi berkembang menjadi hubungan yang lebih transaksional."
Untuk mewujudkan gagasan ini, ia memilih material yang langsung berkaitan dengan tradisi tersebut: karung beras Bulog dan kain jarik. Keduanya adalah limbah tekstil, tapi pilihannya bukan didorong oleh agenda lingkungan. "Titik berangkatnya bukan semata-mata isu limbah tekstil, tetapi kesesuaian material dengan konteks karya," jelasnya. Jika penggunaannya kemudian juga memunculkan refleksi soal pemanfaatan kembali material, ia melihat itu sebagai nilai tambah.
Proses pengerjaannya menyesuaikan ritme kesehariannya sebagai seorang ibu. Tidak selalu terencana, tapi justru membuat pendekatannya terhadap karya ini berkembang secara organik. Eksplorasi temanya belum selesai; ke depan ia berencana mengembangkan karya dalam skala lebih besar dengan teknik yang lebih mendalam.
"Proses pengerjaan karya ini juga cukup menarik buatku secara pribadi. Sekarang aku punya anak, jadi ritme berkarya harus mengikuti ritme keluarga. Kadang prosesnya cukup ramai dan tidak selalu sesuai rencana, tapi justru itu yang membuat pengalaman berkaryanya berbeda."
What Burns, What Flows: Dualitas Emosi di Era Digital



Karyanya yang terbaru, What Burns, What Flows (2026), melanjutkan eksplorasi Amala dalam menggunakan tekstil sebagai medium untuk membaca fenomena sosial. Kali ini ia mengangkat pengalaman yang lebih personal dan kontemporer, bagaimana arus informasi digital membentuk cara seseorang melihat dirinya sendiri dibandingkan dengan orang lain. Dalam karya ini, ia memilih dua elemen visual, api dan air, sebagai representasi dari dua respons emosional yang berlawanan terhadap konten digital. Api untuk ambisi dan kegelisahan yang muncul dari perbandingan; air untuk refleksi dan penerimaan. Material yang dipilih, benang dan akrilik di atas campuran tekstil, bekerja untuk memperkuat kontras antara keduanya secara tekstural.
Jika Nyumbang membaca tradisi komunal yang bergeser, What Burns, What Flows membaca tekanan individual yang tumbuh dari kebiasaan baru. Keduanya menunjukkan pendekatan yang konsisten, yaitu bahwa bagi Amala, tekstil dilihat tidak sekadar sebagai medium ekspresi, melainkan juga sebagai alat untuk mendokumentasikan nilai dan perilaku sosial yang terus berubah secara dinamis.
Tekstil sebagai Medium
Ketertarikan Amala pada tekstil terbentuk sejak kecil. Ia sering diajak kakeknya mengunjungi kerabat yang memiliki usaha sarung di Pekalongan untuk melihat mesin tenun, tumpukan kain, dan benang-benang yang dijemur setelah proses pewarnaan di depan rumah warga. Pengalaman itu membangun familiaritas dengan tekstil jauh sebelum ia berkarya secara serius.
Baginya, tekstil menarik justru karena kompleksitasnya. Setiap material membawa karakter tersendiri—dari cara produksinya, susunan seratnya, teksturnya, hingga sejarah yang melekat padanya.
"Setiap material punya karakter yang berbeda, baik dari cara produksinya, susunan seratnya, teksturnya, maupun sejarah yang dibawanya. Semakin dipelajari, semakin banyak hal yang bisa dieksplorasi."
Dalam praktiknya, Amala tidak memisahkan material dari gagasan, keduanya berkembang beriringan. Ia biasanya berkenalan dulu dengan material baru sebelum memutuskan arah karya. Karakter material sering membentuk gagasan, tapi gagasan yang sudah ada juga menentukan material mana yang relevan.
Bagian yang paling ia nikmati adalah fase eksplorasi: mengenal tekstur, memahami kemungkinan teknis, dan membayangkan bagaimana material bisa diolah. Tantangan justru datang saat produksi—ketika ide baru terus muncul di tengah pengerjaan. "Di satu sisi penasaran untuk mencobanya, tapi di sisi lain khawatir kalau perubahan itu justru membuat karya tidak bekerja dengan baik," ujarnya. Baginya, tantangan terbesar adalah mengelola kemungkinan-kemungkinan yang terus bermunculan selama proses berlangsung.
Amala berharap lebih banyak orang melihat tekstil lebih dari sekadar kain. Baginya, tekstil adalah hasil dari proses panjang yang melibatkan keterampilan, pengetahuan, dan sering kali menyimpan sejarah budaya.
"Ketika kita mulai melihat tekstil sebagai karya, sebagai arsip budaya, dan sebagai hasil kerja banyak tangan—mungkin kita juga akan lebih menghargainya. Dan pada akhirnya, penghargaan itu bisa berpengaruh pada cara kita mengonsumsi dan memperlakukan tekstil dengan lebih bijak."
Kenali Amala dan karyanya lebih jauh dengan mengikutinya di Instagram.

