| Kiri-kanan: Marco Sianturi, Tatang Khalid, Stella Budiarjo, Mega Saffira. (Foto: Dok. ESMOD Jakarta) |
|
|
[Jakarta, Indonesia] Tepat satu minggu yang lalu pada tanggal 17 April 2026, di Hall D2 Jakarta International Expo, The Textile Map bersama dengan Politeknik Kreatif Indonesia (ESMOD Jakarta) mengadakan seminar bertajuk ‘Learning Fashion From The Inside Out: Textile Education for Future-facing Creative Industries‘ pada pergelaran produk tekstil dan garmen terbesar di Asia Tenggara, Indo Intertex-Inatex 2026. Selain seminar, The Textile Map dan ESMOD Jakarta juga berkolaborasi dalam pameran mini dengan judul ‘Beyond The Pattern‘ pada area pameran Inatex, di mana The Textile Map mempresentasikan tiga karya mahasiswa ESMOD Jakarta dari program studi Desain Mode dan Bisnis Kreatif. Kolaborasi The Textile Map dan ESMOD Jakarta ini dilandasi oleh dua misi The Textile Map yaitu menghubungkan ekosistem tekstil (connecting the textile ecosystem) dan mengembangkan literasi tekstil (expanding textile literacy) yang sejalan dengan praktik pengajaran di ESMOD Jakarta yang memberikan kompetensi tekstil secara khusus pada para mahasiswanya.
|
|
Tentang Indo Intertex – Inatex 2026
|
Mahasiswa ESMOD Jakarta tengah mengeksplorasi area pameran Inatex 2026.
(Foto: Dok. ESMOD Jakarta) |
|
|
Indo Intertex – Inatex 2026 resmi telah digelar pada 15-18 April 2026 lalu di Jakarta International Expo, dan kembali menegaskan posisinya sebagai ajang tekstil dan garmen terbesar di Asia Tenggara. Pameran ini dibuka secara resmi oleh Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia, Jemmy Kartiwa Sastraatmadja, delegasi AFTEX, serta berbagai pemangku kepentingan industri nasional dan internasional. Sebanyak 428 perusahaan turut berpartisipasi, dengan kontribusi industri dalam negeri mencapai 65%.
|
|
Selain menghadirkan inovasi di sepanjang rantai nilai industri tekstil, dari teknologi berkelanjutan, efisiensi energi, hingga solusi berbasis AI, Indo Intertex – Inatex 2026 juga membuka ruang khusus bagi para pelaku industri fashion melalui area Build Your Brand dan Fashion Business Seminar. Penyelenggaraan ini menjadi bagian dari strategi memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pemain utama industri tekstil global, sekaligus mendorong pertumbuhan ekosistem fashion lokal dari hulu hingga hilir.
|
|
Learning Fashion From The Inside Out: Textile Education for Future-Facing Creative Industries
|
| Seminar The Textile Map x ESMOD Jakarta berada di area Textile Industry Seminar, Hall D2, Jakarta International Expo pada tanggal 17 April 2026. (Foto: Dok. ESMOD Jakarta) |
|
|
Seminar yang diadakan oleh The Textile Map dan ESMOD Jakarta ini melibatkan tiga orang narasumber, yaitu Stella Budiarjo (Kepala Program Studi Desain Mode ESMOD Jakarta), Tatang Khalid (Dosen Tekstil dan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat ESMOD Jakarta), serta Marco Sianturi (Kepala Program Studi Bisnis Kreatif ESMOD Jakarta). Sementara itu, Mega Saffira selaku pendiri dan editor eksekutif The Textile Map yang juga mengajar di ESMOD Jakarta, berperan sebagai moderator dalam perbincangan ini.
|
|
Seminar diawali dengan perkenalan The Textile Map dan ESMOD Jakarta. (Foto: Dok. ESMOD Jakarta)
|
|
Seminar diawali dengan perkenalan profil The Textile Map yang dibawakan oleh Mega, kemudian perkenalan profil ESMOD Jakarta oleh Stella dan Marco. Pada kesempatan ini, The Textile Map juga melansir profil Dewan Editorial serta situs resmi terbaru yang kini memiliki fitur direktori dan program, sementara ESMOD Jakarta menjabarkan secara mendetail mengenai masing-masing program studi Desain Mode dan Bisnis Kreatif.
Perbincangan kemudian dimulai dengan sesi pertanyaan untuk masing-masing narasumber, dan disusul dengan sesi diskusi yang melibatkan seluruh narasumber, serta sesi tanya jawab.
Tatang Khalid: Pentingnya Pengetahuan Tekstil Bagi Desainer Mode
|
| Tatang Khalid Mawardi, dosen mata kuliah tekstil dan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada masyarakat dari ESMOD Jakarta. (Foto: Dok. ESMOD Jakarta) |
|
|
Pada sesi pertama, Mega menanyakan kepada Tatang terkait mengapa pengetahuan tekstil penting bagi seorang desainer, serta bagaimana pengetahuan tekstil diajarkan di ESMOD Jakarta. Tatang menjelaskan bahwa dengan memiliki pemahaman yang baik terhadap material ataupun tekstil, seorang desainer tidak hanya akan memiliki kemampuan merancang secara visual ataupun estetis saja, tetapi juga dapat menentukan penggunaan material seperti apa yang nyaman dipakai dan sesuai secara fungsinya bagi penggunanya. Tatang juga menjabarkan bagaimana mahasiswa di ESMOD Jakarta diberi pembekalan yang cukup komprehensif melalui studi tekstil secara teori maupun praktik, sehingga mereka tidak hanya mengerti soal material tapi juga memiliki kemampuan dasar untuk menciptakan material mereka sendiri. Ia memperlihatkan beberapa contoh karya mahasiswa ESMOD Jakarta yang memiliki tingkat eksplorasi tekstil yang cukup tinggi, seperti penggunaan resin yang dipanaskan untuk menciptakan bentuk yang menyerupai air, tenun ulos yang dibuat dalam palet warna neon, teknik batik hasil lukisan tangan, juga penggunaan gipsum untuk memberikan efek skulptural pada koleksi couture.
|
|
Stella Budiarjo: Literasi Tekstil sebagai Faktor Pemicu Kreativitas Desainer
|
| Stella Budiarjo, Kepala Program Studi Desain Mode dari ESMOD Jakarta. (Foto: Dok. ESMOD Jakarta) |
|
|
Dengan pertanyaan yang hampir serupa, Stella menjelaskan pentingnya literasi tekstil dalam perspektif desain visual. Stella memberikan contoh dari beberapa desainer ternama yang sering menggunakan siluet avant-garde dalam karya-karyanya, seperti Kei Ninomiya, Rei Kawakubo, dan Thom Browne. Stella menjelaskan bahwa untuk bisa memiliki ide desain yang unik dan kreatif seperti karya-karya desainer tersebut, seorang desainer tentunya perlu memiliki pemahaman terkait material terlebih dahulu, karena untuk dapat merancang bentuk sebuah pakaian, seorang desainer terlebih dahulu harus bisa membayangkan jenis material seperti apa yang dapat digunakan untuk mewujudkannya. “Misalnya, untuk menjahit kain neoprene, tentunya akan berbeda jenis benang juga teknik jahitnya dengan menjahit kain bludru. Kemudian, misalnya, untuk membuat volume dan siluet yang seperti ini, tentunya diperlukan material yang tebal, kaku, namun ringan dan lembut,” ujar Stella.
|
|
Marco Sianturi: Pengetahuan Tekstil sebagai Keunggulan dalam Melawan Tantangan Industri Kreatif
|
| Marco Sianturi, Kepala Program Studi Bisnis Kreatif dari ESMOD Jakarta. (Foto: Dok. ESMOD Jakarta) |
|
|
Setelah membahas literasi atau pengetahuan tekstil dari sudut pandang desainer mode bersama Tatang dan Stella, diskusi dengan Marco kemudian mengupas bagaimana dalam menjawab tantangan perkembangan teknologi di industri kreatif juga bisnis, memiliki pemahaman akan material atau tekstil akan menjadi salah satu manfaat kompetitif bagi seorang entrepreneur. Marco mencontohkan bagaimana ketiadaan pengetahuan tekstil dapat memberatkan proses penelitian dan pengembangan (R&D) sebuah produk, yang kemudian akan berdampak pada pembengkakan biaya. Marco juga mengilustrasikan keunggulan memiliki pengetahuan tekstil ini melalui beberapa proyek berupa konsep bisnis mahasiswa Bisnis Kreatif ESMOD Jakarta, seperti seprai yang memiliki aroma dengan teknologi microencapsulation, jaket olahraga yang dapat dilipat hingga menjadi sangat kecil, juga penggendong bayi (baby carrier) yang didesain untuk digunakan saat mendaki gunung. “Produk seperti ini (baby carrier) contohnya, adalah salah satu jenis produk yang sangat berbahaya apabila kita tidak memiliki pemahaman tekstil yang baik,” tambah Marco.
|
|
Masa Depan Industri Kreatif di Tengah Gempuran Teknologi
|
| Foto bersama peserta seminar ‘Learning Fashion from The Inside Out’. (Foto: Dok. ESMOD Jakarta) |
|
|
Menjelang akhir diskusi, Mega melontarkan satu pertanyaan untuk seluruh panelis. Apa yang harus dipersiapkan oleh para calon desainer dan pelaku industri kreatif dalam menghadapi perkembangan teknologi seperti AI, serta upaya menerapkan prinsip berkelanjutan? Ketiga panelis kemudian memberikan jawaban yang berbeda namun senada. Tatang dan Stella secara khusus membahas isu keberlanjutan, di mana para calon desainer maupun pelaku kreatif perlu memahami konsep keberlanjutan secara dinamis dan mendalam, tidak hanya di luarnya saja. Tatang memberi contoh bagaimana penerapan prinsip berkelanjutan tidak sesederhana menghindari poliester dan hanya menggunakan katun organik, tetapi bagaimana kita dapat menggunakan satu pakaian, apa pun materialnya, selama mungkin sehingga ia tidak berakhir di pembuangan. Sementara itu, Marco secara khusus membahas kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI). Marco menjelaskan bahwa kita tidak perlu merasa terancam oleh AI; justru, semakin majunya teknologi AI, semakin penting bagi kita untuk semakin memperkuat unsur kemanusiaan kita dan menggunakan AI hanya sebagai alat bantu. Apabila direspons dengan tepat dan adaptif, adanya AI justru bisa memperluas jangkauan kreativitas di masa depan.
Perbincangan yang berlangsung sekitar 90 menit tersebut kemudian diakhiri dengan sesi foto bersama dan penyerahan plakat dari Indo Intertex kepada The Textile Map. Partisipasi dalam Indo Intertex-Inatex 2026 ini menjadi momentum penting bagi The Textile Map untuk terus merealisasikan kolaborasi dan program aktivasi lainnya bersama mitra dari industri tekstil, garmen, dan mode ke depannya.
Penulis: Mega Saffira | Editor: Mega Saffira
|
|